MAKALAH
IMPLIKASI
KARAKTERISTk
PEMBELAJARAN
ANAK MI
Makalah ini Diajukan Untuk Memenuhi
Salah Satu Syarat UAS
Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen Pengampu: Kiswan,S.Ag.,M.Pd
![]() |
Disusun Oleh:
Asep
Bagja
Dara
Ayu Tifani
Desi
Tiara
Eva
Masrifah
Iis Siti Aisah
PENDIDIKAN
GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH (PGMI)
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM DARUSSALAM
CIAMIS-JAWA
BARAT
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan masalah
C.
Tujuan Makalah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Implikasi karakteristik anak dalam pembelajaran di MI
Secara umum
karakteristik anak adalah keseluruhan ciri-ciri tingkah laku siswa yang
meliputi, kecerdasan, kecakapan, pengetahuan, sikap, minat. (Jalaludin, 1998). Sedangkan menurut Uno
(2007), karakterisrik anak adalah aspek-aspek dan kualitas anak seperti bakat,
motivasi, dan hasil belajar yang telah dimiliki, karakteristik anak bias
mempengaruhi pemulihan strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian
materi pembelajaran. Hal itu karena anak memiliki ciri khas masing-masing. Disamping itu karakteristik anak usia MI
memiliki ciri khas tersendiri yang secara umum masih relative sederhana.
Dalam proses
pembelajaran karakteristik anak perlu diperhitungkan karena dapat mempengaruhi
jalannya proses dan hasil pembelajaran siswa yang bersangkutan karena anak
memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan dan prespektif yang
dipakai dalam meningkatkan prestasinya. Pemahaman karakteristik anak akan
membantu dalam mencari dan menilai aktifitas siswa.
Dalam rangka
mencapai keberhasilan pembentukan kepribadian anak agar berkembang sesuai
dengan karakteristiknya, maka proses pembelajaran salah satunya harus didukung
oleh unsur keteladanan dar orang tua dan guru. Penyelenggaraan pembelajaran
anak merupakan pilar penting dalam upaya peningkatan derajat kemanusiaan dan
pemajuan peradaban manusia dalam islam dsebut dengan hfdul aql (pemelharaan
akal).
Sabda Nabi
Muhammad SAW : ajarkanlah kebaikan kepada anak-anakmu dan keluargamu dan
didiklah mereka (HR. Abdur Rozaaq dan Said Bin Mansur). Untuk tujuan tersebut
guru MI dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara bertahap dan menyusun
program kegiatan seperti program kegiatan rutinitas, program kegiatan
terintegrasi dan program kegiatan khusus.
Kegiatan
rutinitas merupakan kegiatan harian yang dilaksanakan secara terus-menerus
namun terprogram dengan pasti. Kegiatan terintegrasi adalah kegiatan pengembangan
pembelajaran yang melalui pengembangan bidang kemampuan dasar yang terintegrasi
dengan semua kegiatan pembelajaran. Kegiatan khusus merupakan program kegiatan
yang pelaksanaannya tidak dimasukan atau tidak harus dikaitkan dengan
pengembangan bidang kemampuan dasar lainnya, sehingga membutuhkan waktu dan
penanganan khusus.
Pola
pembelajaran anak MI diharapkan dapat mempertimbangkan karakteristik
pembelajaran anak MI yang secara garis besar pembelajarannya harus memiliki
sifat berikut :
·
Aplikatif : materi pembelajaran bersifat terapan, yang berkaitan
dengan kegiatan rutin anak sehari-hari dan sangat dibutuhkn untuk kepentingan
aktivitas anak, serta yang dapat dilakukan anak dalam kehidupannya.
·
Enjoyable : pengajaran materi dan materi yang dipilih diupayakan
mampu membuat anak senang, menikmati dan mau menikui dengan antusias.
·
Mudah ditiru : materi yang disajikan dapat dipraktekan sesuai
dengan kemampuan fisik dan karakter lahiriah anak.
Senang bermain
Menurut Hasan
(2006) bermain merupakan hal yang penting bagi anak-anak karena dengan
bermmain, mereka dapat mempelajari banyak hal melalui permainan. Disamping itu,
anak juga akan melatih kemampuan motoric untuk menguasai keterampilan fisik
yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat belajar memecahkan masalah serta
mereka dapat belajar bersosialisai dalam memahami aturan social dalam permainan
bersama dengan teman-temannya.
Karakteristik
ini menurut guru MI untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bermuatan
permainan yang secara khusus melatih aspek perkembangan fisik, intelektual, dan
kemampuan emosional sebagai bekal pengembangan keterampilan dimasa yang akan
datang.
Pola
pembelajaran yang dilakukan oleh guru MI hendaknya dirancang dengan model
pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan didalamnya sehungga anak
akan merasa senang dalam belajar enjoyable learning atau dalam proses
pembelajaran guru harus menciptakan suasana learning by doing. Guru harus
menghindari materi pelajaran yang lebih menekankan pada teori karana akan
membosankan dan akan cenderung merasa kelelahan dan hilang konsentrasinya.
B.
Senang bergerak
Suasana
pembelajaran yang monoton dapat membuat siswa jenuh dan bosan, terutama pada
anak usia MI, karean pada umumnya anak MI dapat duduk dengan tenang paling lama
sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran
yang memungkinkan anak dapat berpindah atau bergerak atau memungkinkan ia dapat
berinteraksi dengan temannya.
Diam atau duduk
dalam waktu yang lama bagi anak MI merupakan siksaan dan membosankan. Dalam
konteks pembelajaran proses pembelajaran tidak hanya dilakukan didalam kelas,
tetapi dapat juga melakukan diluar kelas, sehingga anak lebih tertarik dalam
menerima pelajaran terutama materi pembelajaran yang ada kaitannya dengan alam.
C.
Anak Senang Bekerja Dalam Kelompok
Kecenderungan
anak usia MI dalam proses pembelajaran lebih senang berkumpul dengan kelompok
sebaya ( peer group), dalam pembelajaran ini, anak belajar aspek-aspek yang
penting dalam proses sosialisasi, seperti : belajar menemuakn aturan-aturan
kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak bergantung kepada orang dewasa,
belajar bekerjasama, mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungan,
belajar menerima tanggungjawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat
( Sportif ), memepelajari olahraga dan
permainan kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi.
Pada tahap
perkembangan ini anak MI dituntut untuk belajar memberi dan menerima dalam
kehidupan social diantara teman sebaya, belajar berteman dan bekerja dalam
kelompok (peer Group) dalam rangka mengembangkan kepribadian social, termasuk
kesanggupan anak dalam menyesuaikan diri sendiri ( egosentris ) kepada sikap
yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memeperhatikan
kepentinagan orang lain).
Langkah yang harus
diperhatikan oleh guru dalam tahap perkembangan ini anak harus memiliki
keterampilan fisik dan penampilan fisik yang diterima teman sebaya mereka
karena pada masa anak usia MI, anak-anak mulai keluar dari lngkungan keluarga
dan mulai memasuki dunia teman sebaya.
Proses
pembelajran dalam memasuki kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran
“kepribadian social” yang sesungguhnya pada saat ini anak-anak belajar
cara-cara mendekati orang sing, malu-malu atau berani, menjauhkan diri atau
bersahabat dengan teman sebayanya. Anak belajar bagaiman memperlakukan
teman-teman. Ia belajar apa yang disebut bermain jujur (play fair) dalam
permainan.
Oleh karan itu,
prilaku social anak usia 9 atau 10 tahun akan menggambarkan prilaku social yang
akan dilakukan pada usia 50 tahun yang akan datang. Guru MI hendaknya trampil
dalam mempelajari dan memahami budaya teman sebaya pada lingkungan madrasah
atau masyarakat. Guru dapat menggunakan sosiometri untuk mempelajari struktur
social dikelas tertentu.
Pemenuhan tugas
perkembangan ini membawa implikasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di
madrasah. Madrasah merupakan tempat yang kondusif bagi kebanyakan siswa untuk
belajar bergaul dan bekerja sama dengan teman sebaya. Oleh karan itu, guru MI
harus memerhatikan perkembangan ini.
Pola ini
menharuskan guru MI untuk merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak
untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk
membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau
menyelesaikan tugas, setiap siswa harus belajar dan memiliki keterampilan
komunikasi interpersonal.
D.
Senang Merasakan/Melakukan Sesuatu Secara Langsung
Sebagaiman
telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa anak usia MI, perkembangan
intelektualnya cukup pesat, mereka mempunyai kemapuan yang memungkinkan untuk
memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan
dilingkungan mereka dan memanfaatkannya untuk memecahkan masalah-masalah yang
timbul, karena pada masi ini anak MI memasuki tahap operasi konkrit.
Bagi anak MI,
penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak
melaksanakan sendiri atau disebut dengan belajar mandiri, artinya secra berkala
siswa diminta merefleksikan hal-hal yang telah dipelajari, termasuk membuat
contoh terhadap materi yang diajarkan oleh guru.
Peran guru Mi
diharapkan mampu merancang model pembelajaran yang memungkinkan akan terlibat
langsung dalam proses pembelajaran, misalnya guru menyuruh siswa untuk
membedakan akhlak yang baik dan buruk dalam kehidupn sehari-hari.
BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islam, Jakarta,
Raja Grafindo Persada
Jalaludin. 1998. Psikologi Agama, Jakarta. Raja Grafindo,
Persada
Riyanto, Yatim. 2005, Pradigma Pembelajaran, Unesa
University Press, Surabaya
Uno, Hamzah B. 2007, Perencanaan Pembelajaran, Bumi Aksara,
Jakarta
Yusuf, Samsyu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, Bandung,
Rosda Karya
Anshori, Ibnu. Perlindungan Anak Dalam Islam, KPAI, Jakarta


0 komentar:
Posting Komentar